kronologis
Sudah jadi! 🎉 Visual sejarah imigran di Dago kini tersedia dan bisa langsung dilihat di gambar di atas.
🗂️ *Isi visual timeline mencakup:*
- *1850–1870: Awal mula masyarakat adat menetap di panyeupuhan . *besi tempah / petani / pekebun/ahli yang bisa pake alat besi
- 1800 larangan jualan keliling di kota Besar Bandung . ( dago bawah )
kolonial bpkin aturan sepihak pribumi tak boleh masuk kota besar ( tanpa izin )
- 1880 an orang panyeupuhan ikut proyek rel kereta
- 1880 an batas jualan di tempat menunggu na dago an sekitar simpang ( dago atas )
- 1890 an tempat menunggu itu di sebut `dago ` sekitar simpang ( dago artinya menunggu / tidak berkeliling )
- 1890 knil masuk cimahi
- 1890 knil masuk Kota Besar Bandung
- 1900 kolonial melanggar aturan ( mereka naik ) ke dago atas .
kolonial ini melanggar aturan agree wet 1870 larangan merebut tanah rakyat dan batas pribumi dan kolonial
kolonial bikin aturan sepihak pribumi tak boleh masuk kota besar / dago bawah ( tanpa izin ) mereka masuk ke wilayah pribumi seenaknya ( kolonial naik ke bukit / dago atas )
- 1900 an kolonial merencanakan komplek militer
kolonial ini melanggar aturan agree wet 1870 larangan merebut tanah rakyat dan batas pribumi dan kolonial
- 1910 an orang panyeupuhan ikut proyek militer gua belanda .
- 1910 an 1911/1918/1923 kolonial menyuap kolonial dan knil untuk menggusur orang panyeupuhan .
kolonial ini melanggar aturan agree wet 1870 larangan merebut tanah rakyat
- bikin ev 3740, ev 3741 , 3742 dan 6467
- 1920 orang panyeupuhan digusur ke seberang terminal ( gang sawargi ) dan ke tjirapoehan.
- 1920 orang kampung cirapuhan ikut proyek jalan dago , dago weg , dago straat , dago street , dago atas , jl H juanda
- 1920 1923 orang kampung cirapuhan ikut proyek pembangkit listrik tenaga air ( plta ) bengkok
- 1920 an 1930 pabrik tegel kolonial dari pmi ke kantor pos dago
- 1920 an 1930 diduga salah satu pekerja nya adalah emen ( emen nantinya punya anak bernama tante , tardi , abet ,
- 1942 jepang menduduki komplek militer gua belanda.
- 1942 orang kampung cirapuhan ikut proyek gua jepang .
- pabrik tegel batako tutup
- 1945 Indonesia merdeka
- 1948 tjetje menjadi kepala desa tjoblong. Rukun keluarga 01 soewondo
-
- *1950*: Diakui sebagai masyarakat adat RW 01 dan RW 02.
- *1950*: Beberapa pendatang baru adalah unus , tomi , karto , juanta ,
- *Pasca 1950*: Muncul konflik dengan masyarakat adat, masuknya pendatang awal.
- juanta menjadi besan eyong mardasik ( acih binti juanta menikah dengan minan alias misnan bin mardasik )
- duhli bin juanta menikah dengan cicih
- Cicih punya kakak bernama adik alias adhik
- Tomi menikah dengan cicit nawisan bernama rokayah
1950 an mahadi menjual lahan ke M Wikarta
1956 M wikarta menjual lahan ke Bagio ( 400-700 mtr /30 sd 50 tumbak )
1956 M wikarta menjual Wari alias ari binti juanta ( 200 -300 mtr /15 sd 20 tumbak )
1956 M wikarta ada kesepakatan dengan amat bin Mardasik ( 200 -300 mtr /15 sd 20 tumbak )
1956 M wikarta ada menjual dengan Karto ( 200 -300 mtr /15 sd 20 tumbak )
1956 M wikarta ada kesepakatan dengan Tomi / Rokayah ( 200 -300 mtr /15 sd 20 tumbak )
1956 M wikarta Menjual tanah Juanta/ Uki alias ny uki binti Juanta ( 200 -300 mtr /15 sd 20 tumbak )
1956 M wikarta Menjual tanah Juanta/ Isah alias Isah binti Juanta / an Isah Djuha ( 200 -300 mtr /15 sd 20 tumbak )
1956 M wikarta ada kesepakatan dengan Endin / Nunung / - anak endin nunung bernama Hendi menikah dengan Amanah binti Idi ( Idi bin Hasim ) ( 200 -300 mtr /15 sd 20 tumbak )
1956 M wikarta menjual tanah pada Duhli bin juanta ( duhli menikah menikah dengan cicih . Cicih punya saudara bernama adik alias adhik ( 200 -300 mtr /15 sd 20 tumbak )
1956 M wikarta menjual tanah pada Adhik - adhik menjual nya ke Johan alias maman Johana - Maman johana adalah keturunan saudara Nawisan yang saat ini di gang sawargi ( 200 -300 mtr /15 sd 20 tumbak )
1956 M wikarta menjual tanah pada Unus ( 300 mtr - 400 meter / 30 tumbak )
- *1960*: Pendatang mulai bekerja di sektor penggalian pasir. dan atau pembuatn bata . batako
beberapa pihak yang datang adalah Udung , Udung menikah Anih binti omon ( omon adalah suami encep binti adikarta )
beberapa pihak yang datang adalah Jenal alias Zenal , Zenal menikah Euis omah binti Tomi ( Euis Omah adalah turunan ke lima Nawisan )
beberapa pihak yang datang adalah Neh menikah dengan ( Neh adalah Ibunya alo Sana
beberapa pihak yang datang adalah Apud sukendar
beberapa pihak yang datang adalah Ahya ( ahya adalah pekerja nya dan atau diajak kerja Tomi )
sehingga ahya menumpang di lahan Tomi .
*1973*: Secara sepihak Yayasan Ema alias Ny nini karim SH menyerahkan 6.9 ha ( EV 3740 . 3741 , 3742 dan 6467 ) kepada Pemerintah Bandung . Pemerintah Bandung menyerahkan balik sekitar 6.000 meter kepada yayasan Ema .
*1974*: warga menolak karena Secara sepihak Pemerintah Bandung menduduki Kampung Cirapuhan ( galian pasir ) untuk ditimbun dengan sampah . Namun Pemerintah Bandung menggunakan Militer dan atau jajaran nya menekan warga . Sehingga di jadikan lah TPA .
*1975*:Beberapa pihak yang datang adalah petugas PD Kebersihan diantara nya Urip ( PNS ) dan juga Maman .
*1977*:Pemerintah membuat Terminal dago dengan klaim sekitar 22.000 meter di rw 02 - sekitar 3.000 ada di rw 01 ( namun kemudian ada kesepakatan normatif )
*1984 *:Pemerintah Bandung Menutup TPA Dago ( beberapa lokasi hingga 1989 )
*1985 *:Ada program adjuskasi pertanahan
*1988 *:Ada program adjuskasi pertanahan
Pada tahun 1985 dan 1988 beberapa warga mendapatkan kan sertifikat namun ada juga beberapa pihak yang tak jelas mulai menduduki objek tanah dengan dukungan oknum oknum . ( oknum oknum ini lah kemudian menyusup ke Organisasi kemasyarakata Binaan Pemerintah yaitu Rukun Warga 02 dan dengan di bantu Rukun tetangga di Rw 01 dan berkolusi dengan oknum kelurahan kecamatan dan atau oknum BPN . sehingga diduga kemudian menyalah gunakan surat BPN tahun 1983 kepada Gubernur memorial Lurah Dago )
*1984/89 *: Pembangunan Pasar Inpress di Ev 3741/3740 sehingga Lahan 22.000 meter terbagi . Pada Bagian Selatan di depan adalah terminal Dago dan pada sebelah utara nya adalah pasar inpress dan warga ada di belakang nya .
Pada pasar inpress juga di jadikan kantor Rw 02 . Pasar inpress itulah yang disebut los atau Elos .
Diantara yang datang ke Los dan atau pasar inpress adalah warga pendatang yang awalnya kedatangan nya di kampung cirapuhan yaitu Asep Makmun ( anak dari ahya ) , Tahri , Sengkin . Dan juga lain lain nya lagi misalnya Ismail Tanjung dari unsur TNI dan PNS misalnya Zaenal Abidin , Agus Salyono dan lain lain .
Supendi , sopian dan lain lainya membuat gudang rongsok .
Menurut warga garapan supendi ada di belakang terminal . namun entah kenapa bisa menduduki bagian utara di area di kampung cirapuhan .
- *1970*: Sektor sampah, barang bekas, dan transportasi mulai berkembang.
- *1980*: Pendatang aktif di sektor usaha, sampah, dan transportasi. Identitas “warga Dago Elos” mulai terbentuk.
- *1990*: Muncul Pasar Inpres sebagai pusat usaha.
- *2000-an*: Pasar Subuh di Terminal Dago menjadi bagian penting ekonomi warga.

Komentar
Posting Komentar